POPM Kecacingan
Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing dalam tubuh manusia yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths/STH) yaitu cacing yang dalam siklus hidupnya memerlukan tanah yang sesuai untuk berkembang menjadi bentuk infektif. STH yang banyak di Indonesia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale, Necator americanus). Secara umum, anak yang cacingan menunjukkan gejala :
➢ Badan kurus, perut membuncit dan pertumbuhan terganggu
➢ Lemah, sering mengantuk sehingga malas belajar
➢ Mual
➢ Nafsu makan berkurang
➢ Kurang konsentrasi, prestasi belajar menurun
➢ Anak menderita kurang darah (anemia)
➢ Daya tahan tubuh rendah sehingga sering sakit
Pencegahan kecacingan dapat dilakukan melalui pengendalian faktor risiko yang meliputi kebersihan lingkungan, kebersihan pribadi (membiasakan mencuci tangan pakai sabun setelah aktivitas dan sebelum memegang makanan), penyediaan air bersih yang cukup, semenisasi lantai rumah, pembuatan dan penggunaan jamban yang memadai, menjaga kebersihan makanan, pendidikan kesehatan di sekolah baik untuk guru maupun untuk peserta didik.
Promosi kesehatan sebagai upaya integral dari pengendalian cacingan utamanya diarahkan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat guna memelihara kesehatan dan mencegah Cacingan. Perilaku hidup bersih dan sehat dilakukan melalui:
1. cuci tangan pakai sabun;
2. menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga;
3. menjaga kebersihandan keamanan makanan;
4. menggunakan jamban sehat; dan
5. mengupayakan kondisi lingkungan yang sehat.
Dalam Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) Kecacingan, obat yang digunakan adalah Albendazole. Albendazol merupakan obat cacing berspektrum luas. Obat bekerja dengan menghambat pembentukan energi cacing sehingga mati. Albendazol juga memiliki efek larvisida terhadap cacing gelang (A. lumbricoides) dan cacing tambang serta memiliki efek ovisida terhadap cacing gelang (A.lumbricoides), cacing tambang (A.duodenale) dan cacing cambuk (T.trichiura). Setelah pemberian oral, albendazol akan segera mengalami metabolisme lintas pertama dihati menjadi metabolit aktif albendazol-sulfoksida. Absorbsi obat akan meningkat bila diberikan bersama makanan berlemak. Waktu paruh albendazol adalah 8 – 12 jam dengan kadar puncak plasma dicapai dalam 3 jam.
Dosis Pemberian Albendazole pada POPM Kecacingan untuk Anak usia 12-24 bulan diberikan 200 mg secara per oral. Sedangkan untuk usia 2 tahun - 12 tahun diberikan 400mg secara per oral.
Efek samping biasanya ringan dan berlangsung sekilas yaitu rasa tidak nyaman di lambung, mual, muntah, diare, nyeri kepala, pusing, sulit tidur dan lesu. Albendazol tidak boleh diberikan pada Penderita yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap obat golongan benzimidazol dan penderita sirosis. Pada askariasis berat, dapat terjadi erratic migration yaitu hiperaktivitas A. lumbricoides yang bermigrasi ke tempat lain dan menimbulkan komplikasi serius seperti sumbatan saluran empedu, apendisitis, obstruksi usus dan perforasi intestinal yang disertai peritonitis.
Kamis, 17 April 2025 bertempat di SDN Wadat dengan sasaran 196 siswa, Puskesmas Panca yang diwakili oleh Ilis Mustikasari, S.KM (petugas Surveilans) dan Bidan Irma Fitriasari, AM.Keb melaksanakan kegiatan pencegahan kecacingan dengan memberikan obat cacing kepada para siswa. Seperti yang telah diketahui bahwa usia sekolah sangat rawan mengalami penyakit kecacingan. Kecacingan yang tidak ditangani akan berdampak pada penurunan kualitas kesehatan siswa dan tidak optimalnya penyerapan nutrisi yang mendukung tumbuh kembang.
Upaya pencegahan kecacingan ini salah satunya dengan pemberian obat cacing dengan dosis tunggal satu kali minum yang diberikan minimal 6 bulan sekali. Sebagai penggerak masyarakat dalam bidang kesehatan, Puskesmas Panca mendistribusikan obat cacing melalui sekolah – sekolah. Obat cacing yang didapatkan siswa ini gratis, sehingga tidak ada alasan bagi siswa untuk tidak meminum obat cacing yang diberikan.